Rabu, 15 Februari 2012

ASAL-USUL PENAMAAN MINANGKABAU
A. Seleuk-beluk
Sejarah adalah rahasia yang belum dapat dipecahkan. Namun sejarah adalah kenyataan yang kuat, sejarah bersifat ketuhanan dan kesetanan. Sejarah itu ditulis untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang terjadi pada masa lampau, dari berbagai sudut. Sejarah juga dasar pendidikan modern yang merupakan sekolah terbaik bagi setiap orang. Sejarah yang ditulis dengan baik, objektif serta tidak berat sebelah, akan menghasilkan banyak kebaikan pula.[1]
Terlepas dari kekurangan yang dimiliki para pakar sejarah, pun tentunya disebabkan juga dari “sejarah” itu sendiri—pupusnya beberapa bukti otentik atas peninggalan-peninggalan sejarah. Satu hal yang pasti, bahwa sejarah penamaan Minang Kabau, dari doeloe sampai sekarang masih berlandaskan pada “menang adu kabau”. Walaupun menuai pro dan kontra dari para ahli sejarah. Lokal, nasional bahkan internasional.
Lantas ada teka-teki apa sebenarnya dari itu semua? Dan belakangan ini, penulisan Minang Kabau pun mengalami perubahan. Dari perubahan itu lah dalam penulisan Minang Kabau tidak lagi ditulis seperti lazimnya—Minangkabau. Lantas ada apa pula?
1. Asal-usul
Adalah hikayat yang menceritakan bahwa, penamaan Minang Kabau itu terambil dari ungkapan “menang adu kerbau”. Di antaranya, buku-buku sejarah—Hikayat Raja-raja Pasai, yang melukiskan peristiwa-peristiwa di Sumatera antara 1280 dan 1400—masuknya Islam kekesultanan Samudra-Pasai di pesisir timur laut dan akhirnya ekspansi kerajaan Majapahit dari Jawa ketika ia memasukkan kepulauan sebelah barat itu ke dalam imperiumnya.
Dalam versi cerita Majapahit terdapatlah kesimpulan-kesimpulan aneh—kekalahan ratu Majapahit dalam laga “adu kerbau” dengan penduduk setempat.[2] Tambo Minang pun menceritakan hal yang sama, bahkan novel klasik tidak pula ketinggalan menuliskan hal serupa. Bagaimana kepiawaian bangsa itu dalam melumpuhkan lawannya.
Ironisnya, disadari atau tidak, sebagian dari arsitek/perancang penulisan sejarah Minang Kabau itu telah berhasil menerapkan apa yang diteorikan oleh Jaques Derrida; “tulisan adalah lawan tanding dari ingatan itu sendiri”. Pada akhirnya, inilah yang dalam beberapa abad belakangan, bahkan sampai sekarang masih menjadi rujukan dalam penulisan sejarah penamaan Minang Kabau.
2. Ragam Teori
Menurut sejarawan, adu kerbau hanya dongeng yang dibuat sedemikian rupa, agar kedua suku bangsa (Majapahit-Singosari dan Minang) tidak bersatu menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di Nusantara ini. Adapun akibat dari pemberitaan dongeng tersebut, di dalam penulisan sejarah Nasional, masing-masing pihak telah kehilangan data tentang adanya hubungan kekeluargaan antara mereka. Tetapi, MD. Mansur dkk., telah mengidentifikasi peristiwa “adu kerbau” itu dengan kedatangan tentara Singosari, pada tahun 1289.
Dengan demikian, bukanlah kerbau Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit yang berlaga dengan kerbau Patih Sewatang (Datuk Parpatih Nan Sabatang) dalam peristiwa tersebut. Karena kedatangan tentara kerajaan Majapahit bersama Adityawarman setelah tentara kerajaan Singosari ditarik ke Jawa oleh Raden Wijaya. Adityawarman berada di Minang Kabau dalam tahun 1347.[3]
Selanjutnya, penamaan Minang Kabau dipopulerkan jayanya sekitar abad ke-14 sampai abad ke-18. Dengan terbitnya buku “Sejarah Minangkabau” oleh MD. Mansur dkk., diperkenalkan pula bahwa nama Minang Kabau mengalami dua periode popularitas—periode Minang Kabau Timur (abad ke-7) dan periode Minang Kabau/Pagaruyung (1347-1809). Maka, penamaan Minang Kabau yang terambil dari “adu kerbau“ adalah buatan penjajah bangsa Belanda yang diselipkan dalam Tambo Adat Alam Minang Kabau itu, menjadi buyar.[4]
3. Penamaan Minang Kabau
Menggunkan laporan I-Tsing dinyatakan bahwa ibu kota kerajaan “Mo-lo-you” itu berada di dekat khatulistiwa atau tepat di bawahnya, karena orang di ibu kota kerajaan itu menginjak bayangan kepalanya sendiri. Adalah candi Budha di Muara Takus kiranya dapat dijadikan petunjuk mengenai lokalisasi tempat yang diceritakan I-Tsing tersebut.
Namun, pendapat FM. Schnitger, Conservator of Museum at Palembang, ternyata bangunan candi Muara Takus tersebut berlanggamkan abad ke-11 dan 12 Masehi. Adalah perjalanan Dapunta Hyang dari Tanah Basa (di sekitar lembah Indus) pada pertama kali menginjakan kakinya di kaki gunung Merapi, yang terletak di tengah-tengah pulau Sumatera. Perjalanannya dari Tanah Basa juga merupakan perjalanan suci (+ 250 tahun sebelum Masehi) untuk mencari tempat-tempat menyebarkan anggota rombongannya.
Gunung Merapi sebagai tempat yang menjadi tujuannya sewaktu berangkat dari Tanah Basa dan menyonsong sungai Kampar-Kanan dan Kampar-Kiri (Muara Kampar) tidak lain mencari identitas atau pengganti tempat suci, yang menurut kepercayaan Hindu-Budha, di sanalah terletaknya Nirwana—tempat kembalinya roh sesudah mati. Di Nirwana itu juga bersemayamnya Hyang Tunggal bersama para dewata. Adapun di tempat asal, gunung tertinggi adalah Mahameru (Himalaya), oleh karena itu penggantinya juga harus yang sama saktinya—gunung Merapi yang terdapat di Sumatera Tengah.
Dengan demikian perjalanan suci Dapunta Hyang dari Tanah Basa merupakan perjalanan suci untuk menetapkan lokasi keagamaan. Gunung Merapi atau Si Mahameru itulah tempat para dewata dan Hyang Tunggal, yang disebut Parhyangan—suatu tempat suci pengembalian roh sesudah mati dan kalam reinkarnasi. Dengan perkataan lain gunung Merapi atau Si Mahameru sebagai Parhyangan, adalah tempat asal mula jadinya Dapunta Hyang. Tempat itu, bagi bangsa Minang Kabau bernama Pariangan. Yang di dalam mamang dipahat; “dari mana titik palito, dari tanglung yang berapi, dari mana asal ninik kito, dari puncak gunung Merapi”.
Teori lain mengungkapkan asal-usul penamaan “Minang Kabau” dimulai dari prasasti yang terdapat di Kedukan Bukit dan Talang Tuo yang terletak di Sumatera Selatan, bertuliskan aksara Pallawa dalam bahasa Melayu Kuno. Prasasti tersebut milik kerajaan Minang Kabau dan ditulis pada abad ke-7, dengan bukti berisikan kalimat-kalimat yang menyatakan Dapunta Hyang memberangkatkan lasykarnya dari Minanga Tamwan/Minanga Kabwa dengan tujuan membuat sebuah negara/kerajaan, seperti dinyatakan dalam prasasti Kedukan Bukit.[5]
Isi Kedukan Bukit itu ditafsirkan oleh ahli lain sebagai berikut: “Pada hari ketujuh bulan terang, bulan Jyestha. Dapunta Hyang berangkat dari Minanga Tamwan (Kamwar). Ia membawa tentara dua laksa dan dua ratus koi di perahu; yang berjalan seribu tiga ratus dua belas banyaknya; datang di Mukha upang dengan senang hati; pada hari kelima bulan terang, bulan (Asada) dengan lega gembira datang untuk membuat wanua...”
Adapun menimbulkan banyak tafsiran di kalangan sejarawan semenjak prasasti itu diungkapkan oleh P.h.S. Rongkel. Umpamanya, N.J. Krom berpendapat bahwa prasasti itu dimaksudkan untuk memperingati penguasaan atau penaklukkan Sriwijaya atas Kerajaan Melayu. J.L. Moens berpendapat—prasasti itu sebagai peringatan kemenangan Sriwijaya atas pusat Kerajaan Melayu di Palembang, yang dalam prasasti itu disebut Minanga Tamwan.
R.A. Kern mengungkapkan, lokasi Minanga Tamwan itu di muara Sungai Musi, bukan di Palembang. Sedangkan Rongkel sendiri berpendapat lokasinya di Singkawak.[6] Sekali lagi J.L. Moens berujar, bahwa setelah menguasai Palembang, Sriwijaya yang mula berpusat di pantai timur Semenanjung pindah ke pantai timur Sumatera, tidak di Palembang tetapi di Muara Takus.[7] Pemindahan pusat pemerintahan ini terjadi pada sekitar tahun 683 dan 685 M.[8]
Perbedaan pendapat tentang maksud prasasti itu disebabkan kata Minanga Tamwan. Sebagai penemu pertama, Rongkel membaca tulisan itu sebagai Minanga Hamwar. Minanga Hamwar, yang artinya sungai tawar.
Sedangkan Purbatjaraka membacanya Minanga Kamwar, yang artiya sungai kembar. Dari sana Purbatjaraka membangun teori bahwa prasasti itu mengisahkan keberangkatan pasukan dari Minanga Kamwar, yakni dari lokasi pertemuan dua buah sungai kembar. Lambat-laun nama Kamwar berubah menjadi Kampar untuk sungai yang kini bernama Kampar Kiri dan Kampar Kanan.[9]
Akan tetapi Sutan Mhd Zain, berbeda lagi. Menurutnya, kata Minangkabau berasal dari Binanga Kamvar, yang berarti Muara Batang Kampar.[10]
Yang menarik dari teori Purbatjaraka itu ialah dari kata Minanga Kamwar lahirlah kata Minang Kabau. Sedangkan Muh. Hussein Nainar berpendapat, berasal dari meon khabu yang artinya tanah mulia. [11]
Penulis lain berpendapat kalau asalnya dari kata Mainang Kabau, yang artinya Memelihara Kerbau. Ada juga pendapat lain, bahwa kata itu berasal dari bahasa Sri Lanka—mau angka bahu, artinya yang memerintah. Yang lain pun mengatakannya berasal dari kata Minanga Tamwan, Minanga menjadi Minang, sedangkan Tamwan berubah menjadi Kabau. Kata itu ditemukan pada prasasti Kedukan Bukit.[12]
Buchari, setelah ia dapat membaca tulisan yang sangat kabur pada prasasti Kedukan Bukit—kata Muka Upang ditafsirkannya bahwasanya pasukan itu berangkat dari Minanga (yang menurutnya di Batangkuantan) menuju Muka Upang[13] di sebelah hulu Sungai Musi. Sedangkan kata Tamwan disetujui Slamet Muljana sebagai tambahan. Walaupun arti kata Tamwan tersebut disetujui oleh Slamet Muljana, tetapi tentang lokasi Minanga, ia berpendapat tetap di muara Sungai Musi lama.
Seorang sarjana lainnya, Nia Kurnia Sholihat, setelah mengungkapkan pendapat berbagai ahli tentang kata terakhir marmuat manua, yang menurut dia berarti membuat rumah bukan membuat kota atau benteng,[14] menafsirkan prasasti Kedukan Bukit: “Pada tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682) raja Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang naik perahu dari suatu tempat untuk menggabungkan diri dengan bala tentaranya yang baru saja menaklukan Minanga (Binanga). Lalu pada tanggal 7 Jesta (19 Mei) Dapunta Hyang memimpin bala tentaranya meninggalkan Minanga untuk pulang ke ibu kota. Semua tentara bursuka cita karena pulang dengan membawa kemenangan. Mereka mendarat di Muka Upang, lalu menuju ibu kota. Kemudian pada tanggal 5 Asada (16 Juni) Dapunta Hyang menitahkan pembuatan sebuah wanua (bangunan) berupa wihara di ibu kota, sebagai manifestasi rasa syukur dan gembira.”[15]
Sedangkan kata Minanga,[16] ia setuju dengan Slamet Muljana yang menafsirkannya dengan Binanga yang letaknya di daerah Padang Lawas di tepi Sungai Barumun, Sumatera Timur.[17]
Pada tahun 1983, Krom berusaha menafsirkan Kedukan Bukit. Kali ini ia menghubungakan prasasti Kedukan Bukit dengan pernyataan I-Tsing bahwa sekembalinya ia dari Nalanda, Malayu telah menjadi Sriwijaya. Jadi, menurut Krom kerajaan Malayu ini ditundukkan oleh Sriwijaya pada tahun 682 M. Untuk memperkuat pendapatnya, ia mengajukan bacaan tiga huruf yang kabur sekali pada akhir baris ke-7, sehingga berbunyi malayu. Bacaan malayu oleh Krom dibantah oleh J.G. de Casparis yang tidak melihat kemungkinan adanya huruf la di antara huruf yang sudah usang tadi. Huruf yang dibaca la oleh Krom kemungkinan besar ialah huruf ka.
Sehubungan dengan persoalan ini, Poerbatjaraka mengatakan bahwa seandainya matayap ini benar harus dibaca sebagai malayu seperti yang dikemukakan oleh Krom, makin jelaslah bahwa tentara yang disebut di dalam prasasti Kedukan Bukit ini, sebelum sampai di Palembang, lebih dahulu datang ke Malayu, yakni di daerah Jambi sekarang. Ditambah lagi jika kata mudita boleh diartikan mudik, yakni ke selatan Palembang. Oleh karena itu, seandainya dugaan ini benar, berarti dahulu ada seorang besar dari Minang Kabau pergi berperang, berhenti lebih dahulu di Jambi, lalu teus ke Palembang dengan mendapat kemenangan, lalu membuka kota di daerah itu, yang diberi nama Sriwijaya.[18]
Sebaliknya, pendapat J.L. Moens yang mengatakan bahwa raja pertama yang sampai di Bukit Siguntang ialah dari bangsa Kaudiyah pada awal abad ke-6. Moh. Yamin dalam bukunya 6000 Tahun Sang Merah Putih mengaitkannya dengan Sejarah Melayu, yang mengisahkan seorang yang bernama Nila Utama yang dijadikan menantu Demang Lebar Daun, dan dirajakan di kaki bukit Siguntang Mahameru. Nila Utama itulah yang bergelar Sang Si Purba dan sebagai raja pertama disebut Dapunta Hyang yang mendirikan Kerajaan Sriwijaya. Dapunta Hyang lambat-laun berubah pengucapannya menjadi si Guntang.[19]
Sebagaimana diteorikan oleh Purbatjaraka ialah dari kata Minanga Kamwar lahirlah kata Minang Kabau.
Akan tetapi, bagaiman pula dengan teorinya Van der Tuuk, bahwa kata Minang Kabau berasal dari perkataan Pinang Khabu, yang berarti negeri asal.[20]
Menurut Ir. Zubir Rasjad, dan pertimbangan ini diperkuat juga oleh Prof. Nasrun. Maka, Rasjad mencoba merekostruksikan kejadian kata ini dengan menggunakan teori Westenenk. L.C, sebagai berikut:
a) Pada waktu kedatangan pedagang-pedagang India dalam permulaan tarikh Masehi untuk mencari emas antara lain ke daerah pedalaman sungai Kampar yang alirannya berasal dari pegunungan Emas, mereka menemui penduduk asli (orang Khabu atau Kubu) telah mendulang emas. Dalam persentuhan kebudayaan antara kedua bangsa putra-putra India itu datang kepada kepala suku Kubu dengan membawa semacam “candydate” (bejana kencan) yang berisi pinang, sirih dan lain-lain sebagai tanda bahwa mereka menginginkan putri Kubu sebagai istri.
b) Cara mereka menyampaikan keinginan dengan membawa pinang itu, lambat-laun disebut “meminang” dan candy-date itu disebut oleh penduduk asli “carano”, artinya caranya meminang.
c) Orang-orang Kubu yang kini disebut “suku terasing” adalah sisa-sisa dari penduduk asli Minang Kabau. Mereka kini ditemui hidup di hutan-hutan Sumatera Barat bagian Tenggara, bermasyarakat menurut kelompok keibuan (matrilineal system), dan memanggil orang Minang sebagai “sanak”, artinya saudara sepersukuan.
Pembagian alam Minang Kabau menjadi luhak dan rantau berkemungkinan dengan jalur-jalur yang dilalui dalam long march tahun + 1027 dengan nagari Pariangan di sebelah selatan gunung Merapi sebagai arah tujuan pertama sebagai berikut:
· Jalur Muara Takus, Limbanang, dan Sumanik dinamai Luhak Lima Puluh;
· Jalur Rokan, Rao, Bonjol, dan Batipuh dinamai Luhak Agam;
· Jalur Kampar Kiri, Buo, dam Suruaso dinamai Luhak Tanah Datar.
Penyusunan daerah inti Minang Kabau ini disebutkan dengan kata-kata adat:
“dibalah-balah patigo, sirauik pambalah rotan,
luhak dibaginyo tigo, adat dibaginyo salapan;
nan ampek tabang ka langik (artinya hanya tinggal kenangan);
aso bulan, duo mantari, tigo Timur, ampek Salatan;
rumah gadang, lumbung bapereng, sawah gadang, banda buatan”.
Dari Pariangan, long march dilanjutkan ke Solok. Di Solok disusun pula nagari-nagari yang tergabung menjadi “Kubung 13”. Dari Solok long march diteruskan ke:
· Alahan Panjang, Bayang, dan Indrapura (Pesisir Barat);
· Sijunjung, Sungai Dareh, dan Malayu (Batanghari).
Daerah-daerah ini; Solok, Sijunjung, Pesisir Barat bersama-sama dengan daerah yang ditinggalkan pada long march itu seperti aliran Kampar, Indragiri, dan Rokan Kiri, disebut rantau. Artinya daerah yang secara etnologis-budaya termasuk Minang Kabau.[21]
Jadi, jelas sudah, bahwa dari semua teori yang dipaparkan di atas, sedikit sekali yang memiliki kesamaan dalam penulisan asal-usul penamaan Minang Kabau. Sebagaimana penulis lain berpendapat bahwa asalnya dari kata Mainang Kabau, yang berarti Memelihara Kerbau.
Mengingat penulis bukanlah ahli dalam persoalan ini, namun tak ada salahnya jika disepakati pendapat para ahli yang datang belakangan di bawah ini.
Adalah kata “minang” berasal dari “mainang”, yang berarti memelihara kehidupan. Yaitu kehidupan hanya dapat berlangsung apabila tersedia air. Sebagaimana penduduk yang bermukim di nagari Tanjung Sungayang dan nagari Minang Kabau di dekat nagari Pagaruyuang di luhak nan Tuo, Kabupaten Tanah Datar, yang sampai kini menyebut sumber mata air besar di kampung mereka dengan sebutan “minang”.
Minang memiliki beberapa pancuran untuk mengalirkan air dari sumbernya, sedangkan mata air yang lebih kecil disebut sebagai “luak”. Kata luak/luhak juga dipakai oleh penduduk lainnya di Sumatera Barat untuk menyebut sumber mata air. Minang dan luhak memiliki makna yang sama, yaitu sumber mata air atau memelihara kehidupan.
Sedangkan yang dikatakan “kabau” adalah makhluk yang paling dekat dengan kehidupan agraris nenek moyang mereka pada zaman doeloe. Tenaga (daya) binatang ini sangat dibutuhkan untuk alat transportasi dan produksi. Pun kerbau juga alat bantu yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan agraris untuk mencapai peningkatan mutu kehidupan. Hasil pertanian tidak akan optimal apabila tidak ada binatang kerbau yang membantu pekerjaannya. Adapun dagingnya juga dapat dijadikan syarat utama untuk pesta-pesta adat dan lambang kehormatan.
Mereka tidak bisa hidup tanpa air dan mengembangkan peradabannya tanpa keterlibatan kerbau sebagai alat bantu. Oleh karena itu, munculah metafora “minang kabau” yang merupakan simbol dari gabungan nilai kualitatif (minang) dengan simbol nilai kuantitatif (kabau) untuk acuan kehidupan. Di sini makna kata “minang kabau” bukan berarti “memelihara binatang kerbau” secara harfiah, akan tetapi penggabungan dua kata, yang masing-masing kata memiliki nilai sendiri-sendiri ibarat bit informasi bilangan digital.
Mengacu pada penjelasan yang disebut belakangan ini, maka tulisan Minangkabau yang ditulis seperti terdahulu, yaitu Minang Kabau. Penulisan demikian mengacu kepada cara penulisan yang asli—maksud dan tujuannya agar istilah “minang” dan ‘”kabau” lebih mudah dipahami asal katanya. Demikian tulis Ilyas.[22]
Solo, 15-02-12,
Mulyadi Putra.


[1] Soegiarso Soerojo. 1998 “Siapa Menabur Angin akan Menuai Badai”. Jakarta: PT. Rola Sinar Perkasa. Hlm., xv.
[2] Lihat Jefry Hadler. 2010. “Sengketa Tiada Putus: Matriarkat, Reformisme Agama, dan Kolonialisme di Minangkabau”. Jakarta: Komunitas Bambu. Hlm., 18.
[3] Mid Jamal. 1982. “Manyigi Tambo Alam Minangkabau: Studi Perbandingan Sejarah”. Bukittinggi: CV. Tropik. Hlm.,16.
[4] Ibid. 26-27.
[5] Mid Jamal. 1982. “Manyigi Tambo Alam Minangkabau: Studi Perbandingan Sejarah”. Bukittinggi: CV. Tropik. Hlm., 27-28.
[6] A.A. Navis 1984.“Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau”. Jakarta: PT. Grafiti Pers. Hlm., 7.
[7] Bandingkan dengan pendapat I-Tsing, dengan berkiblat pada pendapat I-Tsing, maka hanya sedikit sarjana yang meragukan bahwa Melayu yang disebut I-Tsing itu adalah Jambi, tetapi tidak semua orang percaya bahwa Sriwijaya sudah berdiri di Palembnang pada 671 M. Meskipun demikian, negeri yang dikenal I-Tsing sebagai Sriwijaya itu ibukonya terletak di Palembang dan bukan di tempat lain. Lihat dalam O.W. Wolters. 2011. “Kemaharajaan Maritim Sriwijaya dan Perniagaan Dunnia Abad III- Abad VII”. Jakarta: Komunitas Bambu. Hlm., 251-253.
[8] Mawarti Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 2010. “Sejarah Nasional Indonesial II”. Cet. 4. Edisi Pemutakhiran. Jakarta: Balai Pustaka. Hlm., 73.
[9] A.A. Navis 1984.“Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau”. Jakarta: PT. Grafiti Pers. Hlm., 53. Lihat Nadra. 2006. “Rekonstruksi Bahasa Minangkabau”. Padang: Andalas University Press. Hlm., 10. Lihat juga dalam H. Musyair Zainuddin. 2011. “Membangkit Batang Terendam: Adat Salingka Nagari di Minangkabau”. Yogyakarta: Ombak. Hlm., 37-39.
[10] Amir Sjarifoedin Tj.A. 2011. “Minangkabau dari Dinasti Zulkarnain sampai Tuanku Imam Bonjl”. Jakarta: PT: Gria Prima. Hlm., 16.
[11] A.A. Navis 1984.“Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau”. Jakarta: PT. Grafiti Pers. Hlm., 53. Lihat Nadra. 2006. “Rekonstruksi Bahasa Minangkabau”. Padang: Andalas University Press. Hlm., 10. Lihat juga dalam H. Musyair Zainuddin. 2011. “Membangkit Batang Terendam: Adat Salingka Nagari di Minangkabau”. Yogyakarta: Ombak. Hlm., 37-39.
[12] A.A. Navis 1984.“Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau”. Jakarta: PT. Grafiti Pers. Hlm., 53.
[13] Nama Upang itu memang dijumpai di peta-peta kuno, dan masih ada sebagai nama sebuah desa kecil di sebelah timur laut Palembang di tepi Sungai Musi. Selain itu, Boechari juga menduga bahwa prasati Kedukan Bukit memperingati usaha penaklukan daerah sekitar Palembang oleh Dapunta Hyang dan pendirian ibu kota baru atau ibu kota yang kedua ditempat ini.
Masalahnya ialah, apakah Desa Upang ini sama dengan toponim Mukha Upang dalam prasasti Kedukan Bukit, perlu penelitian lebih lanjut. Temuan pecahan keramik Cina di Desa Upang setelah diteliti oleh Abu Ridho, ternyata tidak ada yang berasal dari abad VII atau VIII, melainkan berasal dari abad XIV sampai abad XVIII. Lihat dalam Mawarti Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 2010. “Sejarah Nasional Indonesial II”. Cet. 4. Edisi Pemutakhiran. Jakarta: Balai Pustaka. Hlm., 74.
[14] Setelah kata wanua batu prasastinya aus/rusak sehingga sukar untuk memperkirakan berapa huruf yang hilang. Akan tetapi, ada kemungkinan juga bahwa kalimat di baris ke-9 ini selesai sampai kata wanua ini saja, artinya setelah kata wanua ini tidak ada kata lainnya. Lihat Mawarti Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 2010. “Sejarah Nasional Indonesial II”. Cet. 4. Edisi Pemutakhiran. Jakarta: Balai Pustaka. Hm.,.72.
[15] Lihat juga dalam Paul Michel Munoz. 2009. “Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia”. Yogyakarta: Mitra Abadi. Hlm., 168.
[16] Ph.S van Ronkel membaca kata ini menanga hamwar, sedangkan G. Coedes dan R.Ng. Poerbatjaraka membacanya minanga kamwar untuk menunjang pendapatnya bahwa pusat kerajaan Sriwijaya ialah daerah Minangkabau atau sekitar pertemuan Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri. Lihat dalam Mawarti Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 2010. “Sejarah Nasional Indonesial II”. Cet. 4. Edisi Pemutakhiran. Jakarta: Balai Pustaka. Hm.,.72.
[17] A.A. Navis 1984.“Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau”. Jakarta: PT. Grafiti Pers. Hlm., 7-8.
[18] Mawarti Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 2010. “Sejarah Nasional Indonesial II”. Cet. 4. Edisi Pemutakhiran. Jakarta: Balai Pustaka. Hm., 73.
[19] A.A. Navis 1984.“Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau”. Jakarta: PT. Grafiti Pers. Hlm., 8.
[20] Dalam Disertasi Siti Chairani Proehoeman. 2006. “Dendang Darek: Alternatif Pengembangan Cara Menyanyi Tradisional ke Cara yang Sesuai Dengan Kaidah Fisiologi”. UGM. Hlm., 81. Tidak dipublikasikan.
[21] Dalam Amir M.S. 2007. “Adat MMinangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang”. Jakarta: PT. Mutiara Sumber Widya. Cet., ke-6. hlm., 50-52.
[22] Abraham Ilyas. 2010. “Nan Empat; Dialektika, Logika, Sistematika Alam Terkembang”. Hlm., 48-49.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar